BAB I
PENDAHULUAN
Kebudayaan berasal dari bahasa Belanda yaitu cultuur, dalam bahasa Inggris cultuere. Sedangkan dalam bahasa Arab kebudayaan disebut tsaqafah yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengelolah tanah atau bertani. Dari pengertian ini berkembanglah arti culture sebagai segala daya dan aktivitas manusia mengubah dan mengelolah alam. (Abu Ahmadi: 1988)
Ditinjau dari bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta “Budhaya” yakni bentuk jamak dari budhi yang berati budi atau akal. Jadi kebudayaan adalah hasil budi atau akal manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Melalui pengembangan kebudayaan inilah manusia dapat mengintrgasikan akal fikiran dengan hati untuk menciptakan sesuatu hal, agar terciptalah sesuatu yang dapat memberikan kepuasan hati dan batin manusia. Maka terciptalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh manusia secara berulang-ulang dalam kehidupannya. Sehingga terciptalah yang disebut dengan adat istiadat (custom).
Berbagai macam kegiatan dapat ditimbulkan dalam pengembangan kebudayaan dalam kehidupan manusia. Pengembangan ini semata-mata bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kepuasan batin dalam hidupnya. Maka salah satu dari hasil ciptaan manusia maka lahirlah kesenian yang dijadikan sebagai alat hiburan dalam kehidupan masyarakat. Dimana kesenian meruakan pengembangan dari akal dan budi untuk memberikan kepuasan batin manusia.
Dalam uraian berikut penulis akan membahas tentang kronologis dan perkembangan sanggar kesenian Tambulun Saiyo Sungai Liku. Sanggar keseniaan ini merupakan hasil dari karya, karsa dan cipta masyarakat Kurao Sungai Liku, yang lahir rasa dari keprihatinan sebahagian tokoh masyarakat Kurao terhadap kurang berminatnya generasi muda dalam mempertahankan kelestarian kesenian tradisional Minang Kabau. Kekhawatiran ini muncul karena dari waktu kewaktu generasi muda nampak sudah tidak berminat lagi terhadap pagelaran kesenian tradisional daerah.
Jika dilihat di Kurao Sungai Liku, bahwa generasi muda lebih memilih musik kontenporer jika dibandingkan dengan musik tradisional. Pada hal jika dilihat dari historis daerah, Kurao Sungai Liku ini merupakan salah satu daerah penghasil kesenian daerah, seperti tari piring, silek harimau, tari pedang, randai, tari dukung anak dan lain sebagainya. Maka sejalan dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman ternyata kesenian ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat.
Kesenian tradisional Minang Kabau ini telah dijadikan sebagai tradisi masyarakat Nagri Sungai Liku dalam berbagai aspek kegiatan pemerintahan nagari seperti, acara Balimau Basamo dalam menyambut bulan suci Rahmadan, kegiatan anak nagari, menyambut tamu pemerintahan, acara perta perkawinan, sunat Rasul, memperingati hari raya Idul Fitri dan lain sebagainya. Jika kegiatan di atas tidak dimeriahkan dengan kesenian tradisional Minang Kabau, maka dinilai tidak sacral dan kurang bermakna.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis mencoba menguraikan pengembangan tradisi kesenian adat tradisonal Minang Kabau di Kurao Nagri Sungai Liku kecamatan Ranah Pesisir kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Adat istiadat (custom) adalah pola-pola perilaku yang diakui sebagai hal yang terbaik dan dijadikan sebagai hukum tidak tertulis dengan sanksi yang berat. Sanksi atau hukuman diberikan oleh orang yang paling mengetahui seluk beluk adat, pemangku adat atau kepala suku. (Tim Abdi Guru: 2006).
Adat istiadat terdapat dalam suatu masyarakat yang hidup dalam suatu wilayah kesatuan. Dimana adat dapat dijadikan sebagai hujjah dalam menjaga tatanan kehidupan masyarakat. Adat merupakan kesatuan hukum yang tidak tertulis akan tetapi jika terjadi pelanggaran atau kesalahan dalam pelaksanaannya maka dapat dikenakan sanksi. Sanksi yang diberikan dapat berupa celaan atau bentuk lainya, seperti diusir dalam lingkungan kesatuaan wilayah adat tempat tinggal. (Amrisal Dt. Endah Kayo: 2010).
Menurut R. Linton masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang sudah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehinga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya, berpikir tentang dirinya dalam suatu kesatuan social dengan batasan-batasan tertentu.
J.L. Gillin dan J.P. Gillin mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat juga meliputi pengelompokan-pengelompokan yang lebih kecil. (Abu Hamadi: 1988).
Dari defenisi di atas dapat diartikan bahwa masyarakat itu timbul dari setiap individu, yang telah lama hidup dan bekerjasama dalam waktu yang cukup lama. Kelompok manusia yang dimaksud adalah sekolompok manusia yang belum terorganisasikan secara fundamental.
Masyarakat Kurao Sungai Liku adalah bahagian dari masyarakat yang sangat kental dalam mempertahankan adat dengan mengembangkan kesenian anak nagari. Kesenian anak nagari ini dalam bentuk mendirikan sebuah sanggar kesenian yang diberi nama sanggar tambulun saiyo Kurao Sungai Liku yang bergerak dibidang kesenian (tari-tarian).
B. PEMBAHASAN
a. Biografis Daerah dan Kondisi Masyarakat
Kurao merupakan bahagian kecil masyarakat yang tinggal diperdesaan/ nagari yang dijadikan sebagai wilayah tempat berdomisili meraka. Dan bahkan disebuah perkampungan yang sangat jauh dipelosok desa/ nagari yang belum terjama oleh kemajuan teknologi seperti, aliran listrik serta jalan yang belum memadai yang masih sederhana.
Desa dipersamakan dengan nagari, dimana nagari merupakan bagian terkecil dalam pemerintahan. (Perda Nomor: 33 tahun 2009 tentang Pemekaran, Penggabungan Pemerintahan Nagari di Pesisir Selatan).
Jika kita defenisikan desa/ nagari adalah suatu hasil perpaduan antara sekelompok manusia dalam lingkungannya. Dimana hasil dari perpaduan itu ialah suatu wujud atau kemampuan dimuka bumi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, social, ekonomi, politik, dan cultural yang saling berinteraksi atar unsur tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah lain. (Hartono, dkk: 1990).
Dalam melakukan aktivitas atau kegiatan dalam lingkungannya, masyarakat perdesaan cenderung memulai dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Agar apa yang dihasilkan dan disepakati tidak terdapat pro-kontra dan kesalahpahaman dikarenakan masih ada masyarakat yang tidak terlibat dan bahkan tidak mengetahui.
Kurao Sungai Liku merupakan sebuah daerah yang tepencil, dimana secara geografis posisinya berada di ujung Nagari Sungai Liku kecamatan Ranah Pesisir kabupaten Pesisir Selatan. Walaupun terletak di daerah pedalaman Nagari Sungai Liku dengan jarak tempuh 15 Km dari pusat pemerintahan kecamatan, namun masyarakat ini mempunyai kebiasaan yang unik dan menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat Kurao. Kebiasaan yang mereka lakukan kendatipun ada persamaan dengan masyarakat lain (tetangga) akan tetapi masyarakat lain tersebut tidak bisa mempertahankan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Kurao. (H. Abdul Mu’s: Tokoh Masyarakat Kurao: 2010).
Dengan asas musyawarah mufakat masyarakat kuarao telah membetuk sebuah sanggar kesenian tradisional minang kabau. Sanggar ini bergerak dala bidang tari-tarian (tari piring), sileh harimau, tari sewa, tari pedang, tari dukung anak, randai dan lain-lain. Keunikan yang terdapat pada masyarakat ini adalah bahwa hanya dengan modal musyawarah dan mufakat saja telah mengantarkan kepada prestasi yang sangat membanggakan. Seperti, lima besar setiap acara pestival kesenian tradisional provinsi Sumatera Barat (tiga periode). Kemudian dalam waktu dekat masyarakat melalui sanggar seninya sedang mempersiapkan diri untuk memenuhi undangan ke Bali.
Jika diamati lebih jauh bahwa prestasi yang telah diraih belum sebanding dengan pendidikan masyarakat yang terdapat di Kurao ini. Dari data yang ditemukan bahwa masyarakat Kurao ini masih 5% yang berpendidikan sekolah dasar (SD), 3 % SMP, 10% SMA itupun masih dalam proses. Sedangkan 82% masyarakat Kuaro tidak pernah menempuh pendidikan formal. (Ka. Kampung Kurao: 2010).
Mendirikan sebuah organisasi sosial dalam masyarakat bukanlah suatu hal yang sangat mudah. Apalagi disebuah daerah yang sangat terkebelakang dari berbagai aspek seperti, aspek pendidikan, pengetahuan formal kebudayaan termasuk keterkebelakangan inprastruktur pembangunan. Dimana daerah Kurao ini belum merasakan terangnya cahaya listrik dimalam hari, seperti terangnya cahaya listrik yang telah dinikmati oleh tetangganya.
b. Kronologis sanggar Tambulun Saiyo
Setetes embun jatuh di Kurao, airnya mengalir sampai ke Muaro, tak usah kito melamun juo, marilah kita baiyo-iyo. Tambulun saiyo pandangan kito. Sungai Liku baliku-liku, jikok model itu kito binaso…………
Setetes “embun” maksudnya adalah segelintir ide yang timbul dari perkumpulan masyarakat dalam ruang lingkup yang sangat kecil. Dimana Kurao merupakan salah satu daerah yang sangat terpencil di kecamatan Ranah Pesisir, namun masih bisa memunculkan sebuah ide yang sangat cemerlang. “Kurao” merupakan daerah dimana timbulnya sebuah ide untuk mendirikan sanggar tari tersebut.
Ungkapan “setetes embun” di atas dapat di artikan sebagai ungkapan bahwa sanggar Tambulun Saiyo yang hanya diusulkan oleh seorang saja yang bernama Agus di daerah Kurao. Dimana saat ini merupakan cikal bakal pengerak segala segala aktivitas bagi masyarakat Kurao. Karena setiap pengambilan keputusan pada oraganisasi ini selalu dilaksanakan dalam bentuk musyawah oleh masyarakat.
Kebiasaan tersebut adalah selalu mempertahankan tradisi “musyawarah untuk mencapai mufakat”. Sebagaimana terdapat dalam pepatah adat “bulek aia dek panghulu, bulek kato dek mufakat”, istilah ini selalu dipergunakan masyarakat Kurao dalam setiap merencanakan kegiatan. Kegiatan tersebut berupa, turun kasawah, melaksanakan kongsi (kerjasama) dalam turun kesawah, gotong royong dan sebagainya.
Di kurao ada bernama Muin, muin mengumpulkan masyarakat untuk mengadakan cenda gurau. Lalu dikatakan oleh salah seorang masyarakat (agus) dalam cenda gurau tersebut kita mengadakan rabab. Tempatnya dirumah orang tua (lewi), lalu disebarluaskan kepada masyarakat lain (muin). Selanjutnya selama dilakukan cenda gurau telah dilakukan permainan rabab tersebut yang telah dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat Kurao.
Setelah rabab dilakukan, maka selanjutnya dilakukan permainan kesenian tradisional selanjutnya yaitu memainkan serunai pesisir selatan. Setelah itu dilakukan maka sebagian tokoh masyarakat tersebut mengadakan istirahat. Maka ketika itu timbulah inpirasi masyarakat tersebut bagaiman kalau permainan alat-alat musik tersebut dikembangkan dalam skala yang lebih luas, karena peralatan kesenian agak lengakap. Seperti, rabab, gendang dan serunai.
Maka timbulah ide untuk dikembangkan atau ditambah dengan tari-tarian, yaitu tari piring. Karena pemain musik tersebut sudah memadai. Maka timbulah ide untuk mencari guru sebagai pelatih tari piring yang dimaksud. Maka, dapatlah seorang guru yang disepakati (Iniar). Beliau merupakan salah seorang guru yang sangat konsen terhadap pengembangan tatri-tarian tradisional minang kabau dalam bentuk tari piring. Peristiwa ini terjadi pada bulan Agustus 2006 sampai sekarang.
c. Pendiri Sanggar Tambulun Saiyo
Asal mula nama sanggar Tambulun Saiyo diberi oleh wali nagari pelangai dengan nama Tambulun saiyo. Alasan nama ini adalah bahwa posisi sanggar ini berdampingan dengan sumber air terjun tambulun. Keberadaan sumber air ini selalu dijadikan oleh masyarakat sebagai monument pemersatu masyarakat dalam bentuk swadaya gotong royong masyarakat. Sumber iar ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengairan iar sawah dan sumber iar minum masyarakat. Jadi ketika terdapat maslah dalam pengairan masyarakat setempat selalu mermusyawarah untuk bergotong royong dalam memperbaikinya.
Sanggar Tambulun Saiyo disirikan oleh beberapa orang tokoh masyarakat Kurao diantaranya:
1. Muin
2. Lewi
3. Oha
4. Dawi
5. By. Anda
6. Abdul Muis
7. By. Unciang
Dari hasil tersebut maka untuk sementara ditunjuk Isal sebagai ketua sanggar. Dengan Struktur kepengurusan, pelindung Pemerintahan Nagari Sungai Liku, dengan pembina: H. Abdul Muis, Hj. Yulidar. Sedangkan Personalia Sanggar adalah sebagai berikut: Pemain musik Agus (Rabab), Lewi sebagai pemain serunai, By. Anda, Oha, Awal sebagai pemukul gendang. Peralatan musik dikelolah oleh By. Unciang, Bj. Es. Guru Tari dalam sanggar ini adalah Bapak Iniar sedangkan perlengkapan pakaian sekaligus tata rias adalah Ibu Ina, Ibu. Lewi dan Ibu Oha. Kemudian yang bertindak sebagai penjaga keamanan adalah Bapak Dawi.
d. Prestasi yang Pernah diraih Sanggar Tambulun Saiyo
Prestasi yang pernah diraih oleh Sanggar Tambulun Saiyo Kurao dalah sebagai berikut:
a. Peringkat 5 besar pada Pestival tari tradisional/ kreasi Pekan budaya kab. Pesisir selatan 2008
b. Pestival Tari Tradisional Minang Kabau di Taman Budaya Sumatera Barat 2008
c. Peringkat 5 besar pada Pestival tari tradisional/ kreasi Pekan budaya kab. Pesisir selatan 2009
d. Pestival Tari Tradisional Minang Kabau di Taman Budaya Sumatera Barat 2009
e. Peringkat 5 besar pada Pestival tari tradisional/ kreasi Pekan budaya kab. Pesisir selatan 2010
f. Pestival Tari Tradisional Minang Kabau di Taman Budaya Sumatera Barat 2010
g. Memenuhi udangan kecamatan dan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti peresmian Open Turnamen Bupati Cup I dan II kab. Pesisir Selatan
h. Peresmian Gala Rajo Adat Nagari Pelangai Tuan ku Sutan Pariaman, April 2011
i. Berbagai iven kegiatan pesta pernikahan yang diundang oleh masyarakat.
j. Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Ketua STAI Balaiselasa, September 2011
k. Ikut serta dalam setiap kegiatan keramaian seperti peringatan Balimau Basamo dalam rangka menyambut bulan suci Rahmadhan dan peringatan hari RayaIdul Fitri setiap tahunnya
l. Memenugi undangan masyarakat dalam kegiatan Pesta Perkawinan dan kegiatan senis lainnya.
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Dalam melakukan aktivitas atau kegiatan dalam lingkungannya, masyarakat perdesaan cenderung memulai dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Agar apa yang dihasilkan dan disepakati tidak terdapat pro-kontra dan kesalahpahaman dikarenakan masih ada masyarakat yang tidak terlibat dan bahkan tidak mengetahui.
Mendirikan sebuah organisasi sosial dalam masyarakat bukanlah suatu hal yang sangat mudah. Apalagi disebuah daerah yang sangat terkebelakang dari berbagai aspek seperti, aspek pendidikan, pengetahuan formal kebudayaan termasuk keterkebelakangan inprastruktur pembangunan. Dimana daerah Kurao ini belum merasakan terangnya cahaya listrik dimalam hari, seperti terangnya cahaya listrik yang telah dinikmati oleh tetangganya.
b. Kritikan dan Saran-saran
Penulis mengaharapkan kepada pembaca agar dapat memberikan kritikan dan saran-saran demi kesempurnaan karya ilmiah yang penulis buat. Sehingga pada penulis selanjutnya, penulis dapat memperbaiki dan menyempunakan karya ilmiah yang penulis buat selanjutnya.
Senin, 15 Oktober 2012
Senin, 01 Oktober 2012
SILABUS KEWIRASWASTAAN
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) BALAISELASA
YAYASAN PEMBINA PERGURUAN TINGGI ISLAM (YPPTI) PESISIR SELATAN
Alamat: Jl.Air Batu No.9 0757-40011 Balaiselasa,25666 e-mil:staipelangai@yahoo.com http://staibalaiselasa.wordpress.com
SEKOLAH TINGGI AGAM ISLAM (STAI) BALAISELASA
HAND OUT KEWIRASWASTAAN
(Semester Ganjil 2012/2013)
A. Informasi Umum
1. Mata Kuliah : Kewiraswastaan
2. Prodi : Tarbiyah /PAI
3. Beban Studi : 2 SKS
4. Dosen : Drs. Abdul Aziz, MS
Mardianton, SE.I
B. Deskripsi Mata Kuliah
1. Status Mata Kuliah
Kewiraswastaan merupakan Mata Kuliah Khusus untuk semum program studi di Sekolah Tinggi Agama Islam Balaiselasa.
2. Sinopsis Mata Kuliah
Membentuk sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa dan bersaahaja dalam berusaha dan dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegaitan usahanya atau kiprahnya dalam lingkungan masyarakat.
3. Tujuan Mata Kuliah
a. Membentuk sikap, mental dan jiwa mahasiswa agar selalu aktif dan kreatif dalam rangka mengembangkan potensi diri dalam lingkungan masyarakat.
b. Menjadikan mahasiswa yang sadar bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya atau hidupnya.
c. Memberikan pendidikan kepada mahasiswa agar dapat mengembangkan pendidikan kewirausahaan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
C. Sistem Penilaian
a. Absen/ kehadiran 75 % bobot nilai = 10
b. Makalah bobot nilai = 10
c. Penugasan bobot nilai = 10
d. Keaktifan bobot nilai = 10
e. Ujian Mit/ tengah Semester bobot nilai = 25
f. Ujian Semester bobot nilai = 35
D. Schedule dan Materi Perkuliahan
Pertemuan Pokok bahasan
1 Perkenalan, penjelasan silabus dan lainnya.
2 KEWIRASWASTAAN:
a. Pengertian Kewiraswastaan
b. Karakteristik Wiraswastawan
c. Ciri-ciri Jiwa Wairausaha
d. Pengenalan dan Pengembangan Pribadi
3 MENJIWAI WIRAUSAHA
a. Penentuan potensi kewirausahaan
b. Penilaian diri (self Assesment) dan proses kewirausahaan
c. Pengenalan dan pengembangan kepribadian
d. Manajemen kewirausahaan
4 KONSEP DASAR DAN MOTIVASI BERWIRA USAHA
a. Pengertian motivasi
b. Belajar wirausaha dari awal
c. Keuntungan dan kelemahan menjadi wirausaha
d. Nilai-nilai wirausaha yang perlu dikembangkan
5 URGENSI PENDIDIKAN DALAM BERWIRAUSAHA
a. Pengertian pendidikan dan kewirausahaan
b. Pendidikan dalam berwirausaha
c. Fungsi Makro dan Fungsi Mikro Wirausaha
d. Berwirausaha mengurangi pengangguran dan kemiskinan
e. Berwirausaha tanpa pendidikan formal
6 IDENTIFIKASI PELUANG USAHA BARU
a. Kebijakan inovasi bagi wiraswastawan
b. Merebut peluang bisnis
c. Sumber gagasan dan penemuan ide baru
d. Tips memilih bisnis yang berhasil
e. Menekan resiko kegagalan usaha
7 PEMBIAYAAN USAHA BARU
a. Mencari Modal Usaha Melalui Entrepreneur partner
b. Solusi bila modal usaha Pas-pasan
c. Studi kasus: Mengambil inspirasi dari Mega Wirausaha
a) Honda
b) Yamaha
c) Suzuki
8 UJIAN MIT SEMESTER
9 EVALUASI PELUANG USAHA BARU
a. Evaluasi Peluang Usaha Baru
b. Aalisa Kelayakan teknis
c. Penilaian Peluang Pasar
d. Analisa Kelayakan Finansial
e. Penilaian Kemampuan Organisasi
f. Analisa persaingan
10 MANAJEMEN KEWIRAUSAHAAN
a. Penertian manajemen
b. Fungsi manajemen
c. Unsur dan tujuan manajemen
d. Prinsip-prinsip manajemen
11 MERINTIS USAHA BARU & MODEL PERKEMBANGANNYA
a. Alasan memulai merintis usaha
b. Cara memasuki dunia usaha
c. Merintis Usaha baru
d. Membeli perusahaan yang sudah berdiri
e. Franchinsing (kerjasama manajemen/waralaba)
f. Bisnis keluarga - profil usaha kecil
12 NILAI-NILAI DASAR EKONOMI ISLAM DALAM BERWIRAUSAHA
a. Pengertian nilai
b. Nilai-nilai dasar yang harus digunakan dalam membentuk ekonomi Islam
c. Konsep Islam tentang kewirausahaan
d. Rasulullah seorang wirausaha yang sejati
13 PENGORGANISASIAN
a. Pengertian Pengorganisasian
b. Ciri-Ciri Pengorganisasian
c. Tanggungjawab pemimpin dalam organisasi
d. Makna jabatan alam organisasi
e. Etos kerja muslim dalam organisasi
14 KEPEMIMPINAN
a. Pengertian Kepemimpinan
b. Kriteria pemimpin sukses
c. Syarat kepemimpinan
d. Gaya Kepemimpinan
e. Perilaku Kepemimpinan Efektif
f. EQ dalam Kepemimpinan
15 Studi Kasus: Menciptakan Usaha Baru
Membuat sebuah paper yang berhubungan dengan kewirausahaan.
Mahasiswa memilih suatu opjek usaha yang ada pada wilayah tertentu, seperti industri rumah tangga (home industri), dan sejenis lainnya.
Paper dikerjakan berkelompok. 1 (satu) kelompok maksimal 5 orang.
Penentuan anggota kelompok dipilih oleh mahasiswa.
Hasil paper dipresentasikan dalam jadwal perkuliahan.
Paper terdiri dari tiga bagian besar:
1. Caver (kulit) paper
2. Kata pengantar
3. Pembahasan/ulasan tentang usaha tersebut dengan menggunakan dasar-dasar konsep wirausaha.
◦ Komponen paper: pendahuluan, isi (Pembahasan), kesimpulan dan daftar pustaka.
◦ Jumlah halaman tidak kurang dari 15 hlm
◦ Spasi 1,5, ukuran kertas A4.
◦ Halaman depan (caver), Judul, Nama no BP , tahun.
16 Studi Kasus: Menciptakan Usaha Baru
Lanjutan......sda
17 UJIAN SEMESTER
D. Daftar Bacaan/ Referensi
1. Soni Sumarso, Kewirausahaan, Yokyakarta: Graha Ilmu, Cet. I, 2010
2. M. Hamdsni, Entrepreneurship: Kiat Melihat dan Memberdayakan Potensi Bisnis, Jokjakarta:Starbooks, 2010
3. PO Abas Sunarya, dkk, Kewirausahaan......CV Andi Offset, Yokyakarta: 2011
4. Rizal Fahlefi, Ekonomi Mikro Islam, STAIN Batusangkar Press: 2008
5. Didin Hafidhuddin, Manajemen Syariah, Jakarta, Gema Insani: 2003
6. Internet
7. Dan Lain-Lain
YAYASAN PEMBINA PERGURUAN TINGGI ISLAM (YPPTI) PESISIR SELATAN
Alamat: Jl.Air Batu No.9 0757-40011 Balaiselasa,25666 e-mil:staipelangai@yahoo.com http://staibalaiselasa.wordpress.com
SEKOLAH TINGGI AGAM ISLAM (STAI) BALAISELASA
HAND OUT KEWIRASWASTAAN
(Semester Ganjil 2012/2013)
A. Informasi Umum
1. Mata Kuliah : Kewiraswastaan
2. Prodi : Tarbiyah /PAI
3. Beban Studi : 2 SKS
4. Dosen : Drs. Abdul Aziz, MS
Mardianton, SE.I
B. Deskripsi Mata Kuliah
1. Status Mata Kuliah
Kewiraswastaan merupakan Mata Kuliah Khusus untuk semum program studi di Sekolah Tinggi Agama Islam Balaiselasa.
2. Sinopsis Mata Kuliah
Membentuk sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa dan bersaahaja dalam berusaha dan dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegaitan usahanya atau kiprahnya dalam lingkungan masyarakat.
3. Tujuan Mata Kuliah
a. Membentuk sikap, mental dan jiwa mahasiswa agar selalu aktif dan kreatif dalam rangka mengembangkan potensi diri dalam lingkungan masyarakat.
b. Menjadikan mahasiswa yang sadar bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya atau hidupnya.
c. Memberikan pendidikan kepada mahasiswa agar dapat mengembangkan pendidikan kewirausahaan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
C. Sistem Penilaian
a. Absen/ kehadiran 75 % bobot nilai = 10
b. Makalah bobot nilai = 10
c. Penugasan bobot nilai = 10
d. Keaktifan bobot nilai = 10
e. Ujian Mit/ tengah Semester bobot nilai = 25
f. Ujian Semester bobot nilai = 35
D. Schedule dan Materi Perkuliahan
Pertemuan Pokok bahasan
1 Perkenalan, penjelasan silabus dan lainnya.
2 KEWIRASWASTAAN:
a. Pengertian Kewiraswastaan
b. Karakteristik Wiraswastawan
c. Ciri-ciri Jiwa Wairausaha
d. Pengenalan dan Pengembangan Pribadi
3 MENJIWAI WIRAUSAHA
a. Penentuan potensi kewirausahaan
b. Penilaian diri (self Assesment) dan proses kewirausahaan
c. Pengenalan dan pengembangan kepribadian
d. Manajemen kewirausahaan
4 KONSEP DASAR DAN MOTIVASI BERWIRA USAHA
a. Pengertian motivasi
b. Belajar wirausaha dari awal
c. Keuntungan dan kelemahan menjadi wirausaha
d. Nilai-nilai wirausaha yang perlu dikembangkan
5 URGENSI PENDIDIKAN DALAM BERWIRAUSAHA
a. Pengertian pendidikan dan kewirausahaan
b. Pendidikan dalam berwirausaha
c. Fungsi Makro dan Fungsi Mikro Wirausaha
d. Berwirausaha mengurangi pengangguran dan kemiskinan
e. Berwirausaha tanpa pendidikan formal
6 IDENTIFIKASI PELUANG USAHA BARU
a. Kebijakan inovasi bagi wiraswastawan
b. Merebut peluang bisnis
c. Sumber gagasan dan penemuan ide baru
d. Tips memilih bisnis yang berhasil
e. Menekan resiko kegagalan usaha
7 PEMBIAYAAN USAHA BARU
a. Mencari Modal Usaha Melalui Entrepreneur partner
b. Solusi bila modal usaha Pas-pasan
c. Studi kasus: Mengambil inspirasi dari Mega Wirausaha
a) Honda
b) Yamaha
c) Suzuki
8 UJIAN MIT SEMESTER
9 EVALUASI PELUANG USAHA BARU
a. Evaluasi Peluang Usaha Baru
b. Aalisa Kelayakan teknis
c. Penilaian Peluang Pasar
d. Analisa Kelayakan Finansial
e. Penilaian Kemampuan Organisasi
f. Analisa persaingan
10 MANAJEMEN KEWIRAUSAHAAN
a. Penertian manajemen
b. Fungsi manajemen
c. Unsur dan tujuan manajemen
d. Prinsip-prinsip manajemen
11 MERINTIS USAHA BARU & MODEL PERKEMBANGANNYA
a. Alasan memulai merintis usaha
b. Cara memasuki dunia usaha
c. Merintis Usaha baru
d. Membeli perusahaan yang sudah berdiri
e. Franchinsing (kerjasama manajemen/waralaba)
f. Bisnis keluarga - profil usaha kecil
12 NILAI-NILAI DASAR EKONOMI ISLAM DALAM BERWIRAUSAHA
a. Pengertian nilai
b. Nilai-nilai dasar yang harus digunakan dalam membentuk ekonomi Islam
c. Konsep Islam tentang kewirausahaan
d. Rasulullah seorang wirausaha yang sejati
13 PENGORGANISASIAN
a. Pengertian Pengorganisasian
b. Ciri-Ciri Pengorganisasian
c. Tanggungjawab pemimpin dalam organisasi
d. Makna jabatan alam organisasi
e. Etos kerja muslim dalam organisasi
14 KEPEMIMPINAN
a. Pengertian Kepemimpinan
b. Kriteria pemimpin sukses
c. Syarat kepemimpinan
d. Gaya Kepemimpinan
e. Perilaku Kepemimpinan Efektif
f. EQ dalam Kepemimpinan
15 Studi Kasus: Menciptakan Usaha Baru
Membuat sebuah paper yang berhubungan dengan kewirausahaan.
Mahasiswa memilih suatu opjek usaha yang ada pada wilayah tertentu, seperti industri rumah tangga (home industri), dan sejenis lainnya.
Paper dikerjakan berkelompok. 1 (satu) kelompok maksimal 5 orang.
Penentuan anggota kelompok dipilih oleh mahasiswa.
Hasil paper dipresentasikan dalam jadwal perkuliahan.
Paper terdiri dari tiga bagian besar:
1. Caver (kulit) paper
2. Kata pengantar
3. Pembahasan/ulasan tentang usaha tersebut dengan menggunakan dasar-dasar konsep wirausaha.
◦ Komponen paper: pendahuluan, isi (Pembahasan), kesimpulan dan daftar pustaka.
◦ Jumlah halaman tidak kurang dari 15 hlm
◦ Spasi 1,5, ukuran kertas A4.
◦ Halaman depan (caver), Judul, Nama no BP , tahun.
16 Studi Kasus: Menciptakan Usaha Baru
Lanjutan......sda
17 UJIAN SEMESTER
D. Daftar Bacaan/ Referensi
1. Soni Sumarso, Kewirausahaan, Yokyakarta: Graha Ilmu, Cet. I, 2010
2. M. Hamdsni, Entrepreneurship: Kiat Melihat dan Memberdayakan Potensi Bisnis, Jokjakarta:Starbooks, 2010
3. PO Abas Sunarya, dkk, Kewirausahaan......CV Andi Offset, Yokyakarta: 2011
4. Rizal Fahlefi, Ekonomi Mikro Islam, STAIN Batusangkar Press: 2008
5. Didin Hafidhuddin, Manajemen Syariah, Jakarta, Gema Insani: 2003
6. Internet
7. Dan Lain-Lain
KURAO NAGARI SUNGAI LIKU PELANGAI
KECAMATAN RANAH PESISIR KABUPATEN PESSIR SELATAN
Nomor : 08/SANGGAR-SL/PEL/2012 Slk Pelangai, 15 September 2012
Lampiran : 1 (Satu) Berkas
Hal : Mohon Bantuan Dana Pengadaan
Sarana dan Inventaris
Kepada Yth,
Bapak Bupati Pesisir Selatan
Cq. Bapak Kepala Dinas Budparpora
Kab. Pesisir Selatan
di-
Painan
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan Hormat,
Do’a dan harapan kami semoga Bapak berada dalam keadaan sehat wal’afiat dan sukses selalu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Amin...
Dalam rangka melestarikan kesenian trasional Minang Kabau khususnya tari piring, maka diupayakan membentuk Sanggar Tari Piring Tambulun Saiyo Kurao Sungai Liku. Sanggar Tari ini didirikan pada tahun 2004 yang lalu hingga sampai saat ini telah banyak kegiatan-kegiatan tari piring dilaksanakan bahkan memeriahkan acara-acara resmi. Maka demi eksistensi Sanggar Tari Piring ini dalam menjalankan kegiatannya, kami mohon kepada Bapak agar dapat memberikan bantuan baik moril maupun materil. Dengan anggaran dana sebagaimana terlampir dalam proposal ini.
Demikianlah proposal ini kami ajukan dengan harapan semoga Bapak dapat mengabulkannya. Atas perhatian dan bantuan yang Bapak berikan kami ucapkan terima kasih.
Wassalam,
Pengurus Sanggar Tari,
Ketua, Sekretaris,
I N I A R S I E R
Mengetahui,
Camat Ranah Pesisir, Wali Nagari Pelangai, Koord. Sanggar,
FACHRUDDIN, SH DARMAWAN, S.Ag MARDIANTON, SE.I
NIP.19621231 198303 1 117
PROPOSAL SARANA DAN INVENTARIS
SANGGAR TARI TAMBULUN SAIYO KURAO SUNGAI LIKU
A. PENDAHULUAN
Kebudayaan berasal dari bahasa Belanda yaitu cultuur, dalam bahasa Inggris cultuere. Sedangkan dalam bahasa Arab kebudayaan disebut tsaqafah yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengelolah tanah atau bertani. Dari pengertian ini berkembanglah arti culture sebagai segala daya dan aktivitas manusia mengubah dan mengelolah alam.
Ditinjau dari bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta “Budhaya” yakni bentuk jamak dari budhi yang berati budi atau akal. Jadi kebudayaan adalah hasil budi atau akal manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Melalui pengembangan kebudayaan inilah manusia dapat mengintrgasikan akal fikiran dengan hati untuk menciptakan sesuatu hal, agar terciptalah sesuatu yang dapat memberikan kepuasan hati dan batin manusia. Maka terciptalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh manusia secara berulang-ulang dalam kehidupannya. Sehingga terciptalah yang disebut dengan adat istiadat (custom).
Berbagai macam kegiatan dapat ditimbulkan dalam pengembangan kebudayaan dalam kehidupan manusia. Pengembangan ini semata-mata bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kepuasan batin dalam hidupnya. Maka salah satu dari hasil ciptaan manusia maka lahirlah kesenian yang dijadikan sebagai alat hiburan dalam kehidupan masyarakat. Dimana kesenian meruakan pengembangan dari akal dan budi untuk memberikan kepuasan batin manusia.
Dalam uraian berikut penulis akan membahas tentang kronologis dan perkembangan sanggar kesenian Tambulun Saiyo Sungai Liku. Sanggar keseniaan ini merupakan hasil dari karya, karsa dan cipta masyarakat Kurao Sungai Liku, yang lahir rasa dari keprihatinan sebahagian tokoh masyarakat Kurao terhadap kurang berminatnya generasi muda dalam mempertahankan kelestarian kesenian tradisional Minang Kabau. Kekhawatiran ini muncul karena dari waktu kewaktu generasi muda nampak sudah tidak berminat lagi terhadap pagelaran kesenian tradisional daerah.
Jika dilihat di Kurao Sungai Liku, bahwa generasi muda lebih memilih musik kontenporer jika dibandingkan dengan musik tradisional. Pada hal jika dilihat dari historis daerah, Kurao Sungai Liku ini merupakan salah satu daerah penghasil kesenian daerah, seperti tari piring, silek harimau, tari pedang, randai, tari dukung
anak dan lain sebagainya. Maka sejalan dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman ternyata kesenian ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat.
Kesenian tradisional Minang Kabau ini telah dijadikan sebagai tradisi masyarakat Nagri Sungai Liku dalam berbagai aspek kegiatan pemerintahan nagari seperti, acara Balimau Basamo dalam menyambut bulan suci Rahmadan, kegiatan anak nagari, menyambut tamu pemerintahan, acara perta perkawinan, sunat Rasul, memperingati hari raya Idul Fitri dan lain sebagainya. Jika kegiatan di atas tidak dimeriahkan dengan kesenian tradisional Minang Kabau, maka dinilai tidak sacral dan kurang bermakna.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis mencoba menguraikan pengembangan tradisi kesenian adat tradisonal Minang Kabau di Kurao Nagri Sungai Liku kecamatan Ranah Pesisir kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat.
B. TUJUAN
Tujuan dari pembentukan sanggar tari Tambulun Saiyo ini adalah:
a. Sebagai wadah penampung aspirasi generasi muda khusus di bidang kesenian tradisional
b. Sebagai wadah pengembangan potensi generasi muda
c. Sebagai wadah pelatihan kesenian tradisional Minang Kabau
d. Wadah budi daya dan pengembangan kesenian tradisional Minang Kabau
e. Sebagai wadah pemersatu generasi muda
f. Ajang kreatifitas generasi muda di bidang kesenian
g. Antisipasi kenakalan remaja
C. JENIS ATAU SPESIFIKASI BARANG
NO NAMA MERK JUMLAH SATUAN
1. Biola (rabab) 1 Buah
2. Gendrang 3 Buah
3. Gendang Besar 2 Buah
4. Warles 1 Unit
5. Pengeras suara 1 Unit
6. Ginset 1 Unit
7. Talempong Genggam 5 buah
8. Serunai 1 Buah
9. Kostum anggota tari 16 Helai
10. Kostum pemain music 6 Helai
11. Tenda 1 Unit
12. Terpal 2 Helai
13. Penerangan 1 Unit
14. Salendang 16 Helai
D. KEGUNAAN
Kegunaan dari proposal ini adalah untuk pengembangan dan pembinaan kegiatan sanggar tari Tambulun Saiyo.
E. OUT PUT (Hasil yang diharapkan)
Dari pengembangan dan pembinaan kegiatan sanggar tari Tambulun Saiyo ini maka hasil yang diharapkan adalah:
a. Kemapuan dalam menguasai kesenian
b. Profesionalitas anggta tari
c. Pemahaman secara mendalam
d. Dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan pemerintah.
F. Susunan Kepengurusan (terlampir)
G. Anggaran Dana
Aggaran dana dari proposal ini adalah:
NO NAMA SATUAN BANYAK HARGA JUMLAH
1. Biola (rabab) Buah 1 350.000 350.000
2. Gendrang Buah 2 200.000 200.000
3. Warles (pengeras suara) Unit 1 1.600.000 1.600.000
4. Ginset Unit 1 1.700.000 1.700.000
5. Talempong Genggam buah 5 250.000 1.250.000
6. Serunai Buah 1 250.000 250.000
7. Kostum anggota tari Helai 16 450.000 7.200.000
8. Kostum pemain music Helai 6 150.000 900.000
9. Tenda Unit 1 1.200.000 1.200.000
10. Terpal Helai 2 600.000 600.000
11. Penerangan/Ginset Unit 1 1.600.000 1.600.000
12. Salendang Helai 16 25.000 400.000
Jumlah 17.250.000
Terbilang: (Tujuh belas juta dua ratus lima puluh ribu rupiah)
H. Dokumen Pendukung (Terlampir)
I. Penutup
Demikianlah proposal ini kami buat agar Bapak dapat mengabulkannya. Atas bantuan yang Bapak berikan kami ucapkan terima kasih.
Slk Pelangai, 15 September 2012
Pengurus Sanggar Tari,
Ketua, Sekretaris,
I N I A R S I E R
Mengetahui,
Camat Ranah Pesisir, Wali Nagari Pelangai, Koord. Sanggar,
FACHRUDDIN, SH DARMAWAN, S.Ag MARDIANTON, SE.I
NIP.19621231 198303 1 117
Minggu, 30 September 2012
Proposal 17 Agustus
PROPOSAL
KEGIATAN PERINGATAN 17 AGUSUTUS
A. Bentuk Permohonan
Mohon Bantuan Dana
B. Pokok-Pokok Pikiran
1. Karang Taruna Puncak Harapan merupakan Organisasi Kepemudaan yang bergerak dibidang sosial dan pengembangan diri generasi muda
2. Karang Taruna Puncak Harapan merupakan salah satu organisasi Kepemudaan yang dapat menampung dan mengembangkan potensi dan kreatifitas generasi muda dalam berbagai bidang
3. HUT RI ke-64 merupakan salah satu momen strategis bagi generasi muda untuk mengembangkan kreatifitas mereka baik pengembangan Nasionalisme maupun potensi diri dalam kegiatan oleh raga
C. Tujuan
1. Menumbuhkan semangat Nasionalisme
2. Memeriahkan Hari Peringatan Kemerdekaan RI ke-64
3. Meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan antar genarasi muda
4. Meningkatkan rasa optimisme dan percaya diri generasi muda dalam mencapai tujuan
5. Meningkatkan solidaritas antar generasi muda
6. Memberikan hiburan kepada masyarakat dalam bidang olahraga.
D. Tema Kegiatan
“Menumbuhkan Semangat Nasionalisme dan Cinta Tanah Air dalam Menghadapi Era Globalisasi”
E. Nama, Waktu dan Tempat
1. Nama
Nama kegiatan ini adalah “Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64”
2. Waktu
Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64 ini dilaksanakan pada hari Kamis tangal 13 s/d 17 Agustus 2009
3. Tempat
Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64 ini dilaksanakan di Lapangan Olahraga Karang Taruna Puncak Harapan Sungai Liku Nag. Pelagai, Kec. Ranah Pesisir, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
F. Bentuk Kegiatan
Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64 ini dilaksanakan dalam bentuk:
1. Sepak Bola Mini
2. Sepak Takrau Ria
3. Permainan Anak-anak
4. Panjat Batang Pinang
G. Sumber Dana
Sumber dana Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64 ini adalah :
1. Swadaya masyarakat
2. Iyuran generasi muda dan anggota KTPH Sungai Liku
3. Pemda Kab. Pesisir Selatan
4. Kontri Busi Pesrta
5. Kas Karang Taruna
6. Sumbangan lain yang halal dan tidak mengikat.
H. Anggaran Dana (Terlampir)
I. Susunan Panitia Pelaksana (Terlampir)
J. Penutup
Demikianlah proposal ini kami buat dengan harapan agar Bapak dapat memberikan bantuan baik moril maupun materil. Atas perhatian dan bantuan yang Bapak berikan kami ucapkan terima kasih.
Wassalam,
Panitia Pelaksana
Ketua, Sekretaris,
E D I DEWI MARDIANA
Mengetahui:
Camat Ranah Pesisir, Wali Nagari Pelangai, Kepala Kampung Karang Taruna
Kelok Koto Langang, Puncak Harapan,
Drs. A Z R A L Drs. EDICUN BACHTIAR MARDIANTON, SE.I
NIP. 010 189 207
KEGIATAN PERINGATAN 17 AGUSUTUS
A. Bentuk Permohonan
Mohon Bantuan Dana
B. Pokok-Pokok Pikiran
1. Karang Taruna Puncak Harapan merupakan Organisasi Kepemudaan yang bergerak dibidang sosial dan pengembangan diri generasi muda
2. Karang Taruna Puncak Harapan merupakan salah satu organisasi Kepemudaan yang dapat menampung dan mengembangkan potensi dan kreatifitas generasi muda dalam berbagai bidang
3. HUT RI ke-64 merupakan salah satu momen strategis bagi generasi muda untuk mengembangkan kreatifitas mereka baik pengembangan Nasionalisme maupun potensi diri dalam kegiatan oleh raga
C. Tujuan
1. Menumbuhkan semangat Nasionalisme
2. Memeriahkan Hari Peringatan Kemerdekaan RI ke-64
3. Meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan antar genarasi muda
4. Meningkatkan rasa optimisme dan percaya diri generasi muda dalam mencapai tujuan
5. Meningkatkan solidaritas antar generasi muda
6. Memberikan hiburan kepada masyarakat dalam bidang olahraga.
D. Tema Kegiatan
“Menumbuhkan Semangat Nasionalisme dan Cinta Tanah Air dalam Menghadapi Era Globalisasi”
E. Nama, Waktu dan Tempat
1. Nama
Nama kegiatan ini adalah “Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64”
2. Waktu
Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64 ini dilaksanakan pada hari Kamis tangal 13 s/d 17 Agustus 2009
3. Tempat
Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64 ini dilaksanakan di Lapangan Olahraga Karang Taruna Puncak Harapan Sungai Liku Nag. Pelagai, Kec. Ranah Pesisir, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
F. Bentuk Kegiatan
Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64 ini dilaksanakan dalam bentuk:
1. Sepak Bola Mini
2. Sepak Takrau Ria
3. Permainan Anak-anak
4. Panjat Batang Pinang
G. Sumber Dana
Sumber dana Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-64 ini adalah :
1. Swadaya masyarakat
2. Iyuran generasi muda dan anggota KTPH Sungai Liku
3. Pemda Kab. Pesisir Selatan
4. Kontri Busi Pesrta
5. Kas Karang Taruna
6. Sumbangan lain yang halal dan tidak mengikat.
H. Anggaran Dana (Terlampir)
I. Susunan Panitia Pelaksana (Terlampir)
J. Penutup
Demikianlah proposal ini kami buat dengan harapan agar Bapak dapat memberikan bantuan baik moril maupun materil. Atas perhatian dan bantuan yang Bapak berikan kami ucapkan terima kasih.
Wassalam,
Panitia Pelaksana
Ketua, Sekretaris,
E D I DEWI MARDIANA
Mengetahui:
Camat Ranah Pesisir, Wali Nagari Pelangai, Kepala Kampung Karang Taruna
Kelok Koto Langang, Puncak Harapan,
Drs. A Z R A L Drs. EDICUN BACHTIAR MARDIANTON, SE.I
NIP. 010 189 207
Rabu, 01 Februari 2012
Riwayat Hidup Aguste Comte, Satika Sosial dan Dinamika Sosial
Nama :Mardianton
Dosen : Prof. Dr. Damsar, MA
Fitri Eriyanti, M. Pd, Ph. D
Mata Kuliah : Ssiologi
Tentang : Riwayat Hidup Aguste Comte, Satika Sosial dan Dinamika Sosial
1. Riwayat Hidup Aguste Comte
Auguste Comte lahir di Montpellier, Prancis tahun 1798. Keluarganya beragama khatolik dan berdarah bangsawan, tetapi Comte tidak memperlihatkan loyalitasnya dalam agama khatolik tersebut. Dia mendapatkan pendidikan di Ecole Polytechnique di Prancis, dimana ia mengalami suasana pergolakan sosial, intelektual dan politik. Comte merupakan seorang mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak, namun tidak sempat menyelesaikan sekolahnya karena banyak ketidakpuasan didalam dirinya.
Aguste Comte memulia karir profesinalnya dengan memberi les privat bidang matematika. Namun selain matematika ia juga tertarik memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan masyarakat terutama minat ini tumbuh dengan suburnya setelah ia berteman dengan Saint Simon yang mempekerjakan Comte sebagai sekretarisnya.
Kondisi kehidupan ekonominya comte pas-pasan, hampir dalam seluruh hidupnya dapat dipastikan hidupa dalam kemiskinan karena ia tidak pernah dibayar sebagaimana mestinya dalam memberikan les privat, dimana pada waktu itu biaya pendidikan di Prancis sangat mahal. Dan akhirnya ia hidup selalu berada dalam pemberian orang-orang yang mengaguminya dan para pengikut agama Humanitasnya.
Tahun 1844 dua tahun setelah ia menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Course of Positive Philosophy dalam enam jilid, dan juga karya besar yang cukup terkenal adalah System of Positive Politics yang merupakan persembahan Comte bagi pujaan hatinya Clothilde de Vaux, yang begitu banyak mempengaruhi pemikiran Comte di karya besar keduanya itu. Dan dari karyanya yang satu ini ia mengusulkan adanya agama humanitas, yang sangat menekankan pentingnya sisi kemanusiaan dalam mencapai suatu masyarakat positifis. Comte hidup pada masa akhir revolusi Prancis termasuk didalamnya serangkaian pergolakan yang tersu berkesinambungan sehingga Comte sangat menekankan arti pentingnya Keteraturan Sosial. Akhirnya pada tahun 1857 ia mengakhiri hidupnya dalam kesengsaraan dan kemiskinan namun demikian namanya tetap kita kenang hingga sekarang karena kegemilangan pikiran serta gagasannya.
2. Statika Sosial dan Dinamika Sosial Aguste Comte
Untuk memahami pemikiran Auguste Comte, kita harus mengkaitkan dia dengan faktor lingkungan kebudayaan dan lingkungan intelektual Perancis. Comte hidup pada masa revolusi Perancis yang telah menimbulkan perubahan yang sangat besar pada semua aspek kehidupan masyarakat Perancis. Revolusi ini telah melahirkan dua sikap yang saling berlawanan yaitu sikap optimis akan masa depan yang lebih baik dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sebaliknya sikap konservatif atau skeptis terhadap perubahan yang menimbulkan anarki dan sikap individualis.
Lingkungan intelektual Perancis diwarnai oleh dua kelompok intelektual yaitu para peminat filsafat sejarah yang memberi bentuk pada gagasan tentang kemajuan dan para penulis yang lebih berminat kepada masalah-masalah penataan masyarakat. Para peminat filsafat sejarah menaruh perhatian besar pada pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah sejarah memiliki tujuan, apakah dalam proses historis diungkapkan suatu rencana yang dapat diketahui berkat wahyu atau akal pikiran manusia, apakah sejarah memiliki makna atau hanyalah merupakan serangkaian kejadian yang kebetulan. Beberapa tokoh dapat disebut dari Fontenelle, Abbe de St Pierre, Bossuet, Voltaire, Turgot, dan Condorcet. Para peminat masalah-masalah penataan masyarakat menaruh perhatian pada masalah integrasi dan ketidaksamaan. Tokoh-tokohnya antara lain Montesquieu, Rousseau, De Bonald.
Comte adalah turgot dan Condorcet merupakan dua okoh filusuf sejarah yang mempengaruhi kemajuan sosial masyarakat. Turgot merumuskan dua hukum yang berkaitan dengan kemajuan. Yang pertama berisi dalil bahwa setiap langkah berarti percepatan. Yang kedua adalah hukum tiga tahap perkembangan intelektual, pertama, orang pertama menemukan sebab-sebab adanya gejala-gejala dijelaskan dalam kegiatan mahluk-mahluk rohaniah, kedua, gejala-gejala dijelaskan dengan bantuan abstraksi dan pada tahap ketiga orang menggunakan matematika dan eksperimen.
Menurut Condorcet, Studi sejarah mempunyai dua tujua, pertama, adanya keyakinan bahwa sejarah dapat diramalkan asal saja hukum-hukumnya dapat diketahui (yang diperlukan adalah Newton-nya Sejarah). Tujuan kedau adalah untuk menggantikan harapan masa depan yang ditentukan oleh wahyu dengan harapan masa depan yang bersifat sekuler. Menurut Condorcet ada tiga tahap perkembangan manusia yaitu membongkar perbedaan antar negara, perkembangan persamaan negara, dan ketiga kemajuan manusia sesungguhnya. Dan Condorcet juga mengemukakan bahwa belajar sejarah itu dapat melalui, pengalaman masa lalu, pengamatan pada kemajuan ilmu-ilmu pengetahuan peradaban manusia, da menganalisa kemajuan pemahaman manusia terhadap alamnya.
Dan penulis yang meminati masalah penataan masyarakat, Comte dipengaruhi oleh de Bonald, dimana ia mempunyai pandangan skeptis dalam memandang dampak yang ditimbulkan revolusi Perancis. Baginya revolusi nii hanya menghasilkan keadaan masyarakat yang anarkis dan individualis. De Bonald memakai pendekatan organis dalam melihat kesatuan masyarakat yang dipimpin oleh sekelompok orang yang diterangi semangat Gereja. Individu harus tunduk pada masyarakat.
Aguste Comte adalah tokoh aliran “positivisme” yang paling terkenal. Kamu positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis. Pendiri filsafat positivis yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte.
Menurut Simon untuk memahami sejarah orang harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum yang menguasai proses perubahan. Mengikuti pandangan 3 tahap dari Turgot, Simon juga merumuskan 3 tahap perkembangan masyarakat yaitu: tahap Teologis, (periode feodalisme), tahap metafisis (periode absolutisme) dan tahap positif yang mendasari masyarakat industri.
Aguste Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala diinspirasi dari de Bonald, sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala diinspirasi dari filsafat sejarah Condorcet.
Aguste Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu : pertama, Metode ini diarahkan pada fakta-fakta. Kedua, Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup. Ketiga, Metode ini berusaha ke arah kepastian. Keempat, Metode ini berusaha ke arah kecermatan.
Metode positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan dalam ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkambangan gagasan-gagasan.
Aguste Comte termasuk pemikir yang digolongkan dalam Positivisme yang memegang teguh bahwa strategi pembaharuan termasuk dalam masyarakat itu dipercaya dapat dilakukan berdasarkan hukum alam. Masyarakat positivus percaya bahwa hukum-hukum alam yang mengendalikan manusia dan gejala sosial dapat digunakan sebagai dasar untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan sosial dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hukum-hukum itu.
Aguste Comte juga melihat bahwa masyarakat sebagai suatu keseluruhan organisk yang kenyataannya lebih dari sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung. Dan untuk mengerti kenyataan ini harus dilakukan suatu metode penelitian empiris, yang dapat meyakinkan kita bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik saja.
Aguste Comte mengajukan tiga metode penelitian empiris yang biasa juga digunakan oleh bidang-bidang fisika dan biologi, yaitu pertama, pengamatan, dimana dalam metode ini peneliti mengadakan suatu pengamatan fakta dan mencatatnya dan tentunya tidak semua fakta dicatat, hanya yang dianggap penting saja. Metode kedua yaitu Eksperimen, metode ini bisa dilakukans ecara terlibat atau pun tidak dan metode ini memang sulit untuk dilakukan. Metode ketiga yaitu Perbandingan, tentunya metode ini memperbandingkan satu keadaan dengan keadaan yang lainnya.
Metode-metode Comte yang digunakan Comte di atas berusaha merumuskan perkembangan masyarakat yang bersifat evolusioner menjadi 3 kelompok yaitu:
1. Tahap Teologis, merupakan periode paling lama dalam sejarah manusia, dan dalam periode ini dibagi lagi ke dalam 3 subperiode, yaitu Fetisisme, yaitu bentuk pikiran yang dominan dalam masyarakat primitif, meliputi kepercayaan bahwa semua benda memiliki kelengkapan kekuatan hidupnya sendiri. Politheisme, muncul adanya anggapan bahwa ada kekuatan-kekuatan yang mengatur kehidupannya atau gejala alam. Monotheisme, yaitu kepercayaan dewa mulai digantikan dengan yang tunggal, dan puncaknya ditunjukkan adanya Khatolisisme.
2. Tahap Metafisik merupakan tahap transisi antara tahap teologis ke tahap positif. Tahap ini ditandai oleh satu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dalam akal budi.
3. Tahap Positif ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir, tetapi sekali lagi pengetahuan itu sifatnya sementara dan tidak mutlak, disini menunjukkan bahwa semangat positivisme yang selalu terbuka secara terus menerus terhadap data baru yang terus mengalami pembaharuan dan menunjukkan dinamika yang tinggi. Analisa rasional mengenai data empiris akhirnya akan memungkinkan manusia untuk memperoleh hukum-hukum yang bersifat uniformitas.
Aguste Comte mengatakan bahwa disetiap tahapan tentunya akan selalu terjadi suatu konsensus yang mengarah pada keteraturan sosial, dimana dalam konsensus itu terjadi suatu kesepakatan pandangan dan kepercayaan bersama, dengan kata lain sutau masyarakat dikatakan telah melampaui suatu tahap perkembangan diatas apabila seluruh anggotanya telah melakukan hal yang sama sesuai dengan kesepakatan yang ada, ada suatu kekuatan yang dominan yang menguasai masyarakat yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan konsensus demi tercapainya suatu keteraturan sosial. Pada tahap teologis, keluarga merupakan satuan sosial yang dominan, dalam tahap metafisik kekuatan negara-bangsa (yang memunculkan rasa nasionalisme/ kebangsaan) menjadi suatu organisasi yang dominan. Dalam tahap positif muncul keteraturan sosial ditandai dengan munculnya masyarakat industri dimana yang dipentingkan disini adalah sisi kemanusiaan.
Referensi :
James M. Heslim, Sosiologi dengan Pendekatan Membumi, Erlangga: Jakarta 2007
Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, PT. Gramedia, Anggota IKAPI: Jakarta 1996.
Langganan:
Postingan (Atom)